Jakarta - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas akibat diserang oleh Amerika Serikat dan Israel. Mereka menjatuhkan 30 bom melalui udara ke kompleks kediaman Khamenei.
"Pemimpin Tertinggi Iran telah mencapai syahid," lapor stasiun penyiaran negara IRIB, dilansir CNN Internasional, Minggu (1/3/2026), dikutip dari detikNews.
Siapa sebenarnya Ayatollah Ali Khamenei? Seberapa penting sosoknya berpengaruh di Iran?
Profil Ayatollah Ali Khamenei
Ayatollah Ali Khamenei bukan sekadar pemimpin politik, melainkan simbol otoritas keagamaan tertinggi di Iran. Berdasarkan catatan dari situs resminya (Khamenei.ir), beliau lahir di Mashhad pada 19 April 1939 dari keluarga ulama yang sangat bersahaja. Nilai-nilai kesederhanaan yang ditanamkan ayahnya, Sayyed Javad Khamenei, menjadi fondasi karakter beliau sejak kecil.
Perjalanan Intelektual dan Spiritual
Pendidikan dasar Khamenei dimulai dari sekolah tradisional (maktab) sebelum akhirnya mendalami ilmu teologi di seminari Mashhad. Di bawah bimbingan ayahnya dan sejumlah ulama besar, beliau menguasai disiplin ilmu logika, filsafat, hingga yurisprudensi Islam di sekolah agama Soleiman Khan dan Nawwab.
Peran Sentral dalam Pergerakan Revolusi
Semangat perlawanan Khamenei mulai tumbuh sejak usia 13 tahun, terinspirasi oleh pidato tokoh berani Nawwab Safavi yang menentang rezim Shah. Pada tahun 1962, beliau resmi bergabung dengan barisan pendukung Imam Khomeini untuk menumbangkan kekuasaan Shah yang dinilai pro-Barat.
Selama 16 tahun masa perjuangan, Khamenei menjadi orang kepercayaan Imam Khomeini untuk menjalankan misi-misi rahasia. Akibat aktivitas politiknya, beliau berulang kali keluar-masuk penjara, termasuk ditahan oleh polisi rahasia SAVAK dan menjalani masa pengasingan selama tiga tahun. Meski dilarang mengajar dan berceramah, konsistensinya dalam menggerakkan massa tidak pernah surut hingga runtuhnya dinasti Pahlavi pada 1979.
Karier Politik dan Kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei di Republik Islam Iran
Pasca-kemenangan Revolusi Islam, peran Khamenei semakin krusial. Beliau diangkat menjadi anggota Dewan Revolusi Islam sesaat sebelum Republik Islam berdiri tegak. Dedikasinya di pemerintahan sangat luas, mencakup berbagai posisi strategis seperti:
Anggota pendiri Partai Republik Islam
Wakil Menteri Pertahanan
Pengawas Garda Revolusi Islam
Imam Salat Jumat di Teheran
Anggota parlemen Teheran
Wakil Imam Khomeini di Dewan Tinggi Pertahanan
Garda terdepan perang yang dipaksakan Irak
Presiden Republik Islam Iran (dua periode yang berbeda)
Ketua Dewan kebudayaan Revolusi
Presiden Dewan Kebijaksanaan
Pemimpin Republik Islam Iran setelah wafatnya Imam Khomeini
Ketua Komite Revisi Konstitusi
Di samping kesibukan politiknya, Khamenei dikenal sebagai pemikir produktif. Ia telah menerbitkan berbagai karya tulis ilmiah. Mulai dari Pemikiran Islam dalam Al-Qur'an, Persatuan dan Partai Politik, Perjuangan Para Imam Syiah (AS), hingga Kumpulan Pidato dan Pesan berjilid-jilid.

